Go to

Loading

Rabu, 08 Januari 2014

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG GIZI PADA
IBU HAMIL DI KLINIK BERSALIN SAM MEDAN


          Gizi adalah zat yang menyusun bahan makanan seperti air, protein, lemak, hidrat arang, vitamin dan
mineral. Salah saki ftktor penting yang menentukan tungkat kesehatan dan kesejahteraan manusia, gizi
seseorang dikatakan baik apabila terdapat kescimbangan dan keserasian antara perkembangan mental orang
tersebut.
         Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamii
tentang gizi pada ibu hamil di klinik bersalin Sam Medan. Jumlah sampel adalah sebanyak 40 orang dengan
tehnik pengambilan sampel yang di gunakan adalah total sampling. Data yang digunakan adalah data primer
yang di peroleh dari kuesioner yang di bagikan kepada responden di Klinik Bersalin Sam Medan periode Juni-Juli
Tabun 2009.
         Dari basil penelitian yang di lakukan terhadap 40 responden di dapat bahwa yang berpengetahuan baik
22 orang (55%) dari umur 21-30 tahun, yang berpengetahuan bails 14 orang (35%) dari pendidikan SLTA,
yang berpengetahuan baik 35 orang (87,5%) dari pekerjaan ibu rumah tangga, yang berpengetahuan baik 21
orang (52,5%) dari sumber informasi media. Hasil penelitian ini di harapkan dapat di gunakan sebagai sumber
informasi yang berguna untuk mendapatkan tingkat pengetahuan ibu dalam gizi.

selengkapnya disini

Selasa, 07 Januari 2014

Rendahnya Minat Membaca Pada Siswa Sekolah


Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang tertulis. Dalam membaca melibatkan pengenalan simbol menyusun sebuah pembahasan ( Djiwatampu, 1995 : 38).
            Pada kalangan siswa membaca merupakan sesuatu membosankan, hal ini tentu saja tidak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi siswa tersebut, tetapi kebanyakan siswa tidak tahu apa dampak yang akan muncul dari kebiasaan buruk tersebut.

            2.1   Faktor penyebab rendahnya minat membaca pada siswa
             Menurut Juhara (2012 : 80) Ada banyak faktor penghambat, mengapa minat baca di Indonesia rendah. Faktor-faktor tersebut diantaranya sebagai berikut :
                  1.      Ketidak pedulian kita akan aktivitas membaca boleh jadi akibat dari kondisi masyarakat kita yang tidak pernah membaca, akibat tidak terbiasa dengan budaya menulis (terbiasa dengan budaya lisan), kedalam bentuk masyarakat yang tidak hendak membaca seiring masuknya teknologi telekomunikasi, informatika dan broadcasting. Akibatnya masyarakat kita lebih senang nonton televisi daripada membaca.
                  2.      Pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa unutuk menjadi lebih banyak membaca, tidak hanya terikat dengan materi yang di berikan gurunya.
                  3.      Banyak jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku. Banyak kalangan yang menuding perkembangan teknologi audio visual semisal televisi sebagai penyebab hilangnya minat baca buku. Namun perlu kita ketahui, di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika kemajuan teknologi audio visual tidak berpengaruh sedikitpun terhadap tinggnya minat orang membaca buku.

                  4.      Orang lebih senang mengunjungi tempat hiburan seperti, taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket, dan lain-lain dari pada membaca buku

                  5.      Budaya baca memang belum diwariskan secara maksimal oleh nenek moyang. Kita terbiasa mendengar dan belajar dari berbagai dongeng, kisah, adat istiadat yang secara verbal dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat atau penguasa zaman dulu.

                  6.      Masyarakat belum menempatkan buku sebagai kebutuhan kedua, setelah kebutuhan dasar, seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Dalam setahun belanja masyarakat untuk buku dan surat kabar hanya sebesar Rp. 1,9 trilyun. Ini jauh tertinggal dibanding belanja untuk rokok mencapai Rp. 47 trilyun dan obat terlarang mencapai 145 trilyun.

                  7.      Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Hampir di semua sekolah, jenis dan jenjang pendidikan perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan.

                  8.      Tak ada motivasi dan bimbingan praktis dari guru, utamanya guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Motivasi tidak hanya berbentuk dorongan yang disampaikan melalui kata-kata

   9.      Rendahnya kualitas guru, harus diakui tidak jarang kita temukan guru-guru (baik disekolah negeri maupun swasta) yang mengajar bukan berdasarkan keahliannya. Misalnya, guru spesifikasinya dibidang matematika karena terbatasnya tenaga pengajar, terpaksa mengajar pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Karena sudah terpaksa, ia pura-pura memahami, mengeksplorasi dan sedikit mengapresiasi. Hasilnya pun nihil karena siswa tidak mendapatkan bimbingan secara maksimal.

            Dari keterangan diatas kita bisa melihat banyak sekali hal-hal yang menyebabkan seorang siswa tidak mempunyai minat membaca, maka hal ini harus menjadi perhatian serius bagi orang tua dan gurunya di sekolah.

Faktor - faktor yang mempengaruhi kejadian STUNTING
Read disini
BAR diagaram hasil sampel status gizi
Read more here

Gizi

NUTRITION

It is quite fitting for a symposium reviewing progress in
infant nutrition in the 20th century to start with a review
of infant mortality rates during that time period. Indeed, it
has been a truism in public health that, within limits, the
infant mortality rate of any community, large or small,
reflected its general state of health better than any other
single indicator. Although no longer valid for the wealthier
countries, it is still the norm for most countries in the
world, where the diseases that kill most babies, i.e., infec-
tions, diarrhea and pneumonia, are all enhanced by inade-
quate nutrition. Interrelation of infection and nutrition was
appreciated early, as documented persuasively in Scrim-
shaw’s classic 1975 review (1).
At the beginning of the 20th century, infant mortality was
at such heights that organized attempts to attack it began more
or less simultaneously throughout what is now called the
developed world. In the forefront was western Europe, a major
effort having come from the French, stung by the loss of the
Franco-Prussian War in 1870 and the realization that popula-
tion dynamics favored a newly united Germany. A landmark
step in the United States came when more or less isolated
efforts in many cities led to organization in 1909 of the
American Association for the Study and Prevention of Infant
Mortality, instrumental in promoting the White House Con-
ferences on Children and Youth and stimulating the establish-
ment of the Children’s Bureau.
Almost 100 years later, decline in infant mortality has
occurred worldwide, dramatically in the industrialized nations,
less so and unevenly in many population groups in those
nations and worldwide.

Read All Disini

Senin, 06 Januari 2014

DATA PENIMBANGAN BALITA PUSKESMAS Disini
PERAN IBU DALAM PEMBENTUKAN POLA KONSUMSI MAKAN PADA BALITA


            Masalah gizi berawal dari ketidakmampuan rumah tangga mengakses pangan, baik karena masalah ketersediaan di tingkat lokal, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan akan pangan dan gizi, serta perilaku masyarakat (Bappenas, 2007). Kebiasaan makan dapat terbentuk sejak usia balita yang merupakan masa penting dalam kehidupan seseorang karena pada masa inilah ditanamkan sikap, kebiasaan dan pola tingkah laku yang memegang peranan menentukan dalam perkembangan individu selanjutnya. Dalam masyarakat Indonesia, wanita dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap tugas domestik yang mencakup tugas pengasuhan, kesehatan dan pertumbuhan anak. Dari studi yang pernah dilakukan diketahui posisi wanita dalam keluarga turut menentukan keadaan kesehatan dan tumbuh kembang anak.
            Balita yang merupakan kelompok individu yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi karena status imunitas, diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan dan kelangsungan serta kualitas hidup. Dari studi yang pernah dilakukan diketahui posisi wanita dalam keluarga turut menentukan keadaan kesehatan dan tumbuh kembang anak karena ini bersangkutan dengan alokasi dana dan waktu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran ibu dalam Pembentukan Pola Konsumsi Makan Pada     Perilaku ibu dalam pemberian makanan sangat berperan dalam membentuk pola konsumsi pangan dalam keluarga. Pola konsumsi pangan ditentukan oleh faktor sosial ekonomi rumah tangga, seperti pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, besar keluarga, pengetahuan pangan dan gizi, proses penyiapan dan penyajian pangan, keterpaparan informasi, harga pangan, selera (http://bkp.deptan.go.id). Hasil penelitian Rahardjo dkk (2007) menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh ibu dengan status gizi.
            Pada penelitian ini ditemukan sebagian besar ibu termasuk pada kelompok reproduksi
sehat 20 – 25 tahuan sedangkan yang berisiko adalah ibu dengan umur dibawah 20 tahun. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang artinya dalam hal pembentukan pola konsumsi makan, ibu yang lebih berumur dalam hal pemberian makanan lebih baik dari pada ibu yang berumur dibawahnya. Selain itu dimungkinkan karena setiap ibu mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh informasi mengenai praktik pemberian makan dan akses informasi yang lebih terbuka sehingga umur tidak berpengaruh terhadap pembentukan pola konsumsi makan balita
            Pendidikan ibu hampir semuanya berpendidikan dasar. Hal ini sejalan dengan hasil
Riskesdas 2007 bahwa prevalensi status gizi berdasarkan tingkat pendidikan orang tua,

memperlihatkan semakin rendah tingkat pendidikan maka prevalensi status gizi buruk dan gizi kurang semakin besar. Tingkat pendidikan menentukan mudah tidaknya ibu menyerap informasi yang diterima namun tidak berpengaruh pada pembentukan pola konsumsi makan balita. Hal inidimungkinkan selain faktor pendidikan terdapat faktor lain yang lebih berpengaruh pada pembentukan pola konsumsi makan.  

Read All  Disini